Dalam hidup saya, rasanya hanya ada 2 makhluk saja yang membuat saya gemetar ketika harus berhadap-hadapan, yaitu kecoa dan bule, xixixixi.... Bukan maksud saya menyamakan para bule dengan sejenis kecoa, tapi apa daya setiap bertemu salah satu dari keduanya hati saya berdebar-debar tak karuan, tentu karena sebab yang berbeda-beda.
Entah kenapa, sejak dulu saya takut sekali pada yang namanya kecoa. Besar kemungkinan karena trauma masa kecil di mana saya sering sekali berpindah rumah hingga mungkin (ini mah' baru dugaan) ada kejadian di mana saya diserbu sekelompok kecoa yang tidak rela ’rumah’nya dibersihkan supaya bisa saya tempati. Tapi itu toh baru dugaan saja. Yang pasti ketika bertemu kecoa, maka alam bawah sadar saya akan memerintahkan dua hal untuk dilakukan yaitu berjingkat, dan menjerit.
Beranjak dewasa dan ketika menjadi senior di sebuah organisasi kampus, akhirnya saya mulai bisa mengatasi ketakutan saya pada kecoa. Rasa takutnya sih masih sama, tapi hati ini sudah tidak terlalu berdebar-debar setiap melihat kecoa. Rasanya saya jadi lebih waspada. Radar saya semakin canggih hingga setiap menangkap sinyal keberadaan kecoa, tangan ini otomatis mencari benda untuk membunuh atau membuang jauh-jauh kecoa yang datang. Sadis memang, tapi kehormatan saya harus dijaga, nggak lucu rasanya kalau ketika memimpin rapat atau sedang di tengah aksi demo saya harus menjerit histeris karena melihat kecoa. Dan akhirnya saya pun bisa berdamai dengan kecoa, tentu saja damai menurut versi saya. Lain halnya ketakutan saya pada kecoa, ketakutan saya pada bule masih sulit saya atasi, setidaknya hingga dua tahun lalu ketika saya dipaksa harus menghadapi ’serbuan bule’. Well, sebenarnya bukan saya yang diserang para bule, tapi saya yang tiba-tiba saja harus masuk ke ’sarang bule’.
Saat itu saya ditugaskan dari kantor untuk mengikuti pelatihan di Australia selama 2 bulan. Walaupun saya masih takut sekali menghadapi bule, tapi toh saya tetap senang mendapat kesempatan langka itu. Dua minggu sebelum berangkat saya membekali diri dengan buku-buku conversation yang alhamdulillah berguna bagi saya yang pada dasarnya tidak pernah mengikuti kursus bahasa Inggris. Walaupun nilai TOEFL saya selalu bagus, saya tidak pernah Pe De dengan conversation karena semua ilmu English itu saya pelajari dari tontonan di TV dan bacaan di buku saja, tidak pernah sekali pun saya praktekkan di dunia nyata. Setiap ketemu bule di kantor yang setiap harinya ada saja kunjungan dari tamu asing, saya selalu bisa mencari cara untuk tidak berpapasan dengan salah satu dari mereka.
Dan akhirnya berangkat juga saya ke negeri kanguru itu. Begitu mendarat di Sydney, saya langsung berasa seperti di tengah-tengah sarang kecoa. Untungnya saya berangkat tidak sendiri, dan dari empat orang peserta training, cuma saya yang belum pernah ke luar negeri sebelumnya. Hehehe...aman lah, kalo ada apa-apa saya tinggal berlindung saja di balik mereka. Tadinya saya pikir bisa terus mengandalkan teman-teman saya itu. Ternyata saya salah. Kalo kata Sule, ”OOH....TIDAK BISSAAA!!!”
Ternyata mereka, para bule, gemar sekali mengajak bicara dan terutama senang sekali mendengar. Jadi setiap ada event pertemuan, ’everyone must talk!’ Begitulah kira-kira, hingga akhirnya saya terbiasa merancang kata-kata sebelum tiba saatnya bagi saya untuk bicara. Saya mulai terbiasa menghitung waktu atau kesempatan yang diberikan untuk bicara, mulai terbiasa memperkirakan apa kalimat yang pas untuk dilontarkan yang sesuai dengan waktu dan tema pembicaraan. Seperti yang saya lakukan di SINI. Tapi itu di dalam kelas, bagaimana di luar kelas? Di pasar, di jalan, di dalam bus? Teteeup, saya merasa seperti di tengah-tengah sarang ’kecoa’.

Hingga pada suatu saat, kami punya kesempatan jalan-jalan di Sydney. Dan ternyata, kota Sydney beda sekali dengan kota Adelaide, Port Lincoln, Townsville, Rockhampton, Minnipa dan kota-kota sepi yang kami kunjungi sebelumnya. Menyusuri jalanan Sydney di malam hari seperti hidup di dunia yang biasanya hanya saya tonton di film2 Hollywood. Begitu gemerlap, begitu hingar bingar, dan begitu sesak dengan manusia yang kebanyakan berkulit putih dan kuning. Dan ketika sedang menyeberang jalan itulah, di tengah-tengah para ’kecoa’ itu, saya tiba-tiba saja mendengarkan dua-tiga orang sedang bercakap-cakap dalam ’Boso Jowo’. Entah apa yang mereka bicarakan karena saya juga bukan beretnis Jawa, tapi saya senang sekali mendengar bahasa yang familiar itu. Celingak-celinguk mencari asal suara sambil terus menyeberang jalan, saya tidak menemukan manusia berkulit cokelat seperti saya. Tapi ternyata oh ternyata, suara itu berasal dari sekelompok gadis yang saya pikir berasal dari Cina, Korea atau Jepang yang berjalan persis di belakang saya. WHAT? Asli deh, kalo kalian lihat penampilan mereka, pasti juga tidak akan mengira mereka orang Indonesia. Bahasa Jawanya juga ’mbledag-mbledug’, Jawa banget deh. Hehehe....saya jadi kenyang, berasa di warteg ^_^
Pe De saya meningkat lagi waktu sedang berdiri di depan sebuah restoran, tiba-tiba ada cewek Jepang berlogat Jawa (baca: cewek Jawa berparas Jepang) mencolek saya dan berkata, ”Maaf Mba, sekarang jam berapa ya?”. Xixixi...Kalau saja sebelumnya saya tidak lewat lampu merah tadi, tentu saya akan heran setengah mati melihat gadis berpenampilan harajuku di samping saya ternyata bisa berbahasa Jawa dengan logat yang Jawa bangeeddd. Ternyata, bukan saya saja orang asing di tanah asing itu. Dan ternyata lagi, semua orang akan terasa asing jika tidak saling membuka diri.
Dan begitulah ceritanya hingga saya mulai berani berhadapan dengan para bule. Masih suka deg-degan sih, tapi paling tidak saya tidak akan menghindar lagi. Rasanya, lebih baik salah ngomong dan ketahuan ’bego’nya, daripada gak ngomong apa-apa dan tetap asing selamanya :p
Tulisan ini diikutsertakan dalam LOMBA INI
Tengkyu buat ka angga sang gembala yang [mungkin akan] merelakan fotonya dicolong buat meramaikan jurnal ini. Fotonya passss bgt dengan suasana saat itu. Buat yg tertarik dengan fotografi, sila di-add akun fbnya ^_^

