(Sebuah saduran bebas dari buku ‘Profil Orang betawi, Asal Muasal, Kebudayaan dan Adat istiadatnya’ karangan Ridwan Saidi, terbitan Gunara Kata tahun 2004)
Mahzab Kali Besar
Studi tentang masyarakat Betawi tempo doeloe dari segi geografis diidentikan dengan kawasan Kali Besar sehingga pakar yang menganut pendekatan ini disebut sebagai penganut mahzab Kali Besar. Mahzab Kali Besar menganggap bahwa bahasa yang dipergunakan di kawasan Kali Besar mencerminkan bahasa Betawi secara keseluruhan, seperti halnya mereka menganggap bahwa populasi Kali Besar dan sekitarnya adalah sama dengan populasi Betawi.
Tata pikir mahzab Kali Besar bertitik tolak dari runtuhnya kraton Jayakarta yang diserbu pasukan Jan Pieterszen Coen pada tahun 1619. Kraton Jayakarta yang didirikan di tepi Kali Besar itu dibakar. Dan seluruh penghuninya, baik kerabat kraton maupun rakyat biasa, diusir ke luar kawasan Kali Besar. Coen membangun kota baru. Untuk itu Coen mendatangkan budak dari berbagai penjuru nusantara, juga dari luar seperti Arakan (Burma), Andaman dan Malabar (India). Budak-budak inilah bagi pandangan Lance Castle (seorang pakar yang menulis buku The Ethnic Profile oj Djakarta) sebagai leluhur orang-orang Betawi. Pakar lain lantas menimpali dengan menyimpulkan bahwa bahasa Creol yang dipakai para budak itu merupakan acuan bahasa Betawi.
Faktanya
Prof. Slamet Mulyana dalam bukunya ‘Dari Holotan ke Djayakarta’ mengungkapkan bahwa dalam suatu ekskavasi di kawasan Condet ditemukan kapak genggam dari zaman Neolithicum. Ini memberi petunjuk bahwa kawasan Condet merupakan daerah hunian purba di Jakarta.
Prasasti Tugu yang berasal dari abad ke-5 ditemukan di simpang tiga Kramat Tunggak, Tanjung Priok. Dalam prasasti disebutkan tentang penggalian Sungai Chandrabagha (Sungai Bekasi) oleh Raja Purnawarman. Dan Sri Maharaja Purnawarman pada tahun ke-22 pemerintahannya di kerajaan Tarumanegara itu memerintahkan rakyatnya untuk menggali Sungai Gomati sampai ke laut sepanjang 6122 tombak (12km) dalam waktu 21 hari.
Dari sini dapat dibayangkan betapa banyaknya tenaga kerja yang dilibatkan dalam pekerjaan itu. Wilayah kerajaan tarumanegara yang berbatas timur Sungai Citarum, berbatas barat Sungai Cisadane, berbatas selatan Gunung Salak dan Gede, dan berbatas utara laut Jawa mempunyai rakyat dalam jumlah besar. Dari prasasti Tugu dapat disimpulkan bahwa kerajaan ini berpenduduk. Dan mereka yang berdiam di Kalapa merupakan bagian dari populasi Tarumanegara.
Kalapa
Kalapa adalah nama yang paling purba dari kawasan yang kemudian disebut Jakarta. Sebuah kampung lama di Teluk Naga, Tangerang, dinamakan Kampung Kalapa.
Kerajaan Tarumanegara memudar pada abad ke-7M. Sementara itu kekuasaan Sunda Pajajaran belum bangkit. Prof. Slamet Mulyana berpendapat di antara tenggang waktu abad ke-7 sampai dengan abad ke-12M terjadi vacuum kekuasaan politik di Kalapa. Dalam masa vacuum itulah muncul kekuasaan Budha Sriwijaya sebagai periode interrugnum di Kalapa.
Pada abad ke-12M kerajaan Sunda Pajajaran mendirikan (dalam pengertian mendirikan kantor untuk mengutip bea cukai) sebuah pelabuhan antara lain di Cimanuk dan di Kalapa. Di kemudian hari, pelabuhan yang oleh Pajajaran diberi nama Sunda Kalapa ini menjadi pelabuhan yang paling ramai dibanding pelabuhan lain yang dikontrol kerjaan Sunda Pajajaran.
Lantas siapakah orang Kalapa itu? Orang-orang kalapa adalah orang-orang yang berasal dari Tanah Jawa. Mereka berbahasa Sansekerta, dan di zaman kekuasaan Pajajaran mereka berbahasa Sunda Kuno. Orang-orang ini kemudian bercampur baur, kawin-mawin, dan membentuk komunitas baru dengan migran yang datang dari Kalimantan pada periode interrugnum. Prof.Dr. Bernd Nothofer memperkirakan arus migrasi dari Kalimantan ke Kalapa terjadi paling sedikit 10 abad yang lalu.
Melayu Polinesia
Prof.Dr. Nothofer mengatakan bahwa dialek Melayu yang kini dipakai masyarakat Jakarta, Bangka, Palembang, Pontianak dan Serawak, serta bahasa yang masih kerabat Melayu seperti Iban, Kantuk, Kendayan, bukan berasal dari semenanjung Malaysia. Dialek tersebut merupakan varian bahasa Melayu Purba (Polinesia) yang berasal dari Kalimantan Barat.
Nama kalapa juga berasal dari bahasa Melayu polinesia, bukan bahasa Austronesia yang menyebutnya nyiur. Tidak ada sumber yang dapat memberi keterangan tentang nama terdahulu dari bandar yang kemudian diberi nama Kalapa. Hal ini mungkin karena gelombang migran asal Kalimantan Barat diduga melampaui polulasi mukimin awal, sehingga bahasa Melayu dapat mengalahkan bahasa Sunda Kuno sebagai lingua franca.
Orang-orang Kalapa yang kemudian membentuk komunitas baru dengan migran dari kalimantan Barat menyebut dirinya sebagai orang Melayu Jawa sampai abad 19. setelah itu mereka dikenal dengan sebutan orang Betawi (dari kata Batavia) atau orang Selam (dari kata Islam).


