Rabu, 21 Maret 2007

Asal Muasal

(Sebuah saduran bebas dari buku ‘Profil Orang betawi, Asal Muasal, Kebudayaan dan Adat istiadatnya’ karangan Ridwan Saidi, terbitan Gunara Kata tahun 2004)



Mahzab Kali Besar



Studi tentang masyarakat Betawi tempo doeloe dari segi geografis diidentikan dengan kawasan Kali Besar sehingga pakar yang menganut pendekatan ini disebut sebagai penganut mahzab Kali Besar. Mahzab Kali Besar menganggap bahwa bahasa yang dipergunakan di kawasan Kali Besar mencerminkan bahasa Betawi secara keseluruhan, seperti halnya mereka menganggap bahwa populasi Kali Besar dan sekitarnya adalah sama dengan populasi Betawi.



Tata pikir mahzab Kali Besar bertitik tolak dari runtuhnya kraton Jayakarta yang diserbu pasukan Jan Pieterszen Coen pada tahun 1619. Kraton Jayakarta yang didirikan di tepi Kali Besar itu dibakar. Dan seluruh penghuninya, baik kerabat kraton maupun rakyat biasa, diusir ke luar kawasan Kali Besar. Coen membangun kota baru. Untuk itu Coen mendatangkan budak dari berbagai penjuru nusantara, juga dari luar seperti Arakan (Burma), Andaman dan Malabar (India). Budak-budak inilah bagi pandangan Lance Castle (seorang pakar yang menulis buku The Ethnic Profile oj Djakarta) sebagai leluhur orang-orang Betawi. Pakar lain lantas menimpali dengan menyimpulkan bahwa bahasa Creol yang dipakai para budak itu merupakan acuan bahasa Betawi.



Faktanya



Prof. Slamet Mulyana dalam bukunya ‘Dari Holotan ke Djayakarta’ mengungkapkan bahwa dalam suatu ekskavasi di kawasan Condet ditemukan kapak genggam dari zaman Neolithicum. Ini memberi petunjuk bahwa kawasan Condet merupakan daerah hunian purba di Jakarta.



Prasasti Tugu yang berasal dari abad ke-5 ditemukan di simpang tiga Kramat Tunggak, Tanjung Priok. Dalam prasasti disebutkan tentang penggalian Sungai Chandrabagha (Sungai Bekasi) oleh Raja Purnawarman. Dan Sri Maharaja Purnawarman pada tahun ke-22 pemerintahannya di kerajaan Tarumanegara itu memerintahkan rakyatnya untuk menggali Sungai Gomati sampai ke laut sepanjang 6122 tombak (12km) dalam waktu 21 hari.



Dari sini dapat dibayangkan betapa banyaknya tenaga kerja yang dilibatkan dalam pekerjaan itu. Wilayah kerajaan tarumanegara yang berbatas timur Sungai Citarum, berbatas barat Sungai Cisadane, berbatas selatan Gunung Salak dan Gede, dan berbatas utara laut Jawa mempunyai rakyat dalam jumlah besar. Dari prasasti Tugu dapat disimpulkan bahwa kerajaan ini berpenduduk. Dan mereka yang berdiam di Kalapa merupakan bagian dari populasi Tarumanegara.



Kalapa

Kalapa adalah nama yang paling purba dari kawasan yang kemudian disebut Jakarta. Sebuah kampung lama di Teluk Naga, Tangerang, dinamakan Kampung Kalapa.



Kerajaan Tarumanegara memudar pada abad ke-7M. Sementara itu kekuasaan Sunda Pajajaran belum bangkit. Prof. Slamet Mulyana berpendapat di antara tenggang waktu abad ke-7 sampai dengan abad ke-12M terjadi vacuum kekuasaan politik di Kalapa. Dalam masa vacuum itulah muncul kekuasaan Budha Sriwijaya sebagai periode interrugnum di Kalapa.



Pada abad ke-12M kerajaan Sunda Pajajaran mendirikan (dalam pengertian mendirikan kantor untuk mengutip bea cukai) sebuah pelabuhan antara lain di Cimanuk dan di Kalapa. Di kemudian hari, pelabuhan yang oleh Pajajaran diberi nama Sunda Kalapa ini menjadi pelabuhan yang paling ramai dibanding pelabuhan lain yang dikontrol kerjaan Sunda Pajajaran.



Lantas siapakah orang Kalapa itu? Orang-orang kalapa adalah orang-orang yang berasal dari Tanah Jawa. Mereka berbahasa Sansekerta, dan di zaman kekuasaan Pajajaran mereka berbahasa Sunda Kuno. Orang-orang ini kemudian bercampur baur, kawin-mawin, dan membentuk komunitas baru dengan migran yang datang dari Kalimantan pada periode interrugnum. Prof.Dr. Bernd Nothofer memperkirakan arus migrasi dari Kalimantan ke Kalapa terjadi paling sedikit 10 abad yang lalu.



Melayu Polinesia



Prof.Dr. Nothofer mengatakan bahwa dialek Melayu yang kini dipakai masyarakat Jakarta, Bangka, Palembang, Pontianak dan Serawak, serta bahasa yang masih kerabat Melayu seperti Iban, Kantuk, Kendayan, bukan berasal dari semenanjung Malaysia. Dialek tersebut merupakan varian bahasa Melayu Purba (Polinesia) yang berasal dari Kalimantan Barat.



Nama kalapa juga berasal dari bahasa Melayu polinesia, bukan bahasa Austronesia yang menyebutnya nyiur. Tidak ada sumber yang dapat memberi keterangan tentang nama terdahulu dari bandar yang kemudian diberi nama Kalapa. Hal ini mungkin karena gelombang migran asal Kalimantan Barat diduga melampaui polulasi mukimin awal, sehingga bahasa Melayu dapat mengalahkan bahasa Sunda Kuno sebagai lingua franca.



Orang-orang Kalapa yang kemudian membentuk komunitas baru dengan migran dari kalimantan Barat menyebut dirinya sebagai orang Melayu Jawa sampai abad 19. setelah itu mereka dikenal dengan sebutan orang Betawi (dari kata Batavia) atau orang Selam (dari kata Islam).

Selasa, 20 Maret 2007

I Not Stupid


Rating:★★★★
Category:Movies
Genre: Drama
Director: Jack Neo; Cast: Huang Po Ju, Shawn Lee, Joshua Ang, Cheryl Chan, Jack Neo, Xiang Yun, Richard Low, Selena Tan

Ini film bagus. Beneran! Ya...jangan ngarepin aksi atau laga memukau atau bintang terkenal di film ini. Tapi film ini jelas bisa membawa kita kembali ke zaman sekolah dulu. Dari ketiga tokoh di dalam film tersebut- Kok Pin, Boon Hock dan Terry- yang manakah anda? Kalo aku sih....gak tiga-tiganya. Tapi film ini berhasil membawaku merasa seperti mereka. Menangis bersama mereka, walau lebih sering tertawa bersama mereka.

Film ini menceritakan perjuangan tiga orang anak dengan latar belakang yang berbeda dalam kehidupannya di sekolah di luar sekolah yang selalu dikaitkan dengan prestasinya di sekolah. Kalau prestasi selalu didasarkan pada nilai atau rangking di kelas, maka mereka bisa dikatakan tidak punya prestasi. Bahkan mereka seringkali dicap tidak punya masa depan karena sudah masuk dalam kelas EM3. rupanya di Singapore sana, sekolah SD punya tingkatan untuk muridnya. Dan EM3 merupakan kelas terendah yang bisa dicapai murid sekolah. Aih...gimana rasanya belajar di sekolah dengan mengetahui bahwa kita termasuk kelompok anak terbodoh di sekolah tersebut? Kalau mau tau rasanya....ya liat aja film itu. Seru deh!

Selain berhasil membawa kita bernostalgia ke dunia SD dulu, film ini juga mengenalkan kita akan kehidupan di Singapore secara umum. Yang paling mencolok sih bahasanya...Pua Chu Kuang banget. Jadi mikir, ternyata banyak figur lidya (dari ‘Living with Lidya’) di Singapore, ya kayak ibunya Terry itu. Oia, si Terry ini kan ceritanya orang kaya banget, dia biasa asrapan dengan dilayanin pembantu. Ada satu sceen di mana bapaknya si Terry ini ngobrol dengan pembantunya pake bahasa Indonesia. Nama pembantunya Marliah dan ......siapa ya, pokoknya Indonesia banget. Awalnya sih tersinggung juga, tapi ya....gimana lagi, emang kenyataan begitu kali. Rata-rata pembantu di sana emang berasal dari Indonesia dan Filipina mungkin.

Kebudayaan orang Singapore juga sempet disinggung sedikit. Ada pepatah yang disebut Boon Hock waktu kabur dari sekapan penculik. Katanya, ‘Orang Singapore selalu berpikir lurus, tidak tahu cara memotong jalan’. Apa iya? Gambaran dunia pendidikan di sana juga hampir mirip dengan di Indonesia di mana gelar itu penting banget. Sempet disinggung, walaupun Cuma selembar kertas, gelar itu penting banget untuk mencari kerja. Sama kan ama di sini? Di Singapore, matematika dan bahasa Inggris juga menjadi primadona dalam mata pelajaran sekolah. Pelajaran lain...nothing!! (kok jadi kaya vincent dan desta?!?) Penggunaan bahasa Inggris dengan benar juga menjadi issu dalam lingkungan kerja. Pemerintah Singapore sampe2 melarang bahasa Inggris slank (yg seperti kita lihat di ‘Pua Chu Kuang’ dan ‘Living with Lidya’) untuk digunakan dalam iklan2 di TV.

Pokoknya banyak deh yang kita dapat setelah nonton film ini. Oia, kalo lagi nonton film ini, coba deh perhatiin kakaknya si Terry, mirip siapa ya????

Rabu, 07 Maret 2007

Dunia Belum Kiamat


Rating:★★★
Category:Movies
Genre: Comedy
Sebenernya aku ga terlalu suka nonton sinetron lokal. Bukannya diskriminasi, tapi emang ga banyak menurutku sinetron lokal kita yg bagus untuk ditonton. Kalo Arisan, eits...jangan ditanya dong! Ini sinetron mah, layak ditunggu tiap minggunya. Dari segi pengambilan gambarnya, penyutradaraannya, ceritanya, sampe pemerannya pun sulit nyari kekurangannya. Tapi tunggu...ini bukan tentang Arisan, tapi ini tentang Dunia Belum Kiamat, sinetron baru di Indosiar yang belakangan ini mulai aku tunggu-tunggu kehadirannya tiap jam 6 sore.

Emang ni film ga sebagus Arisan. Perlu dedikasi tinggi dan komitmen yang super tinggi lah, untuk bikin sinetron kayak Arisan. Tapi Dunia Belum Kiamat kuakui cukup mengejutkanku. Pertama nonton, aku agak kaget karena Rifki Haidar kok dapet peran konyol begitu? Walopun aku bukan pengamat artis muda, apalagi penggemarnya, rasa-rasanya baru kali itu aku lihat rifki haidar meranin tokoh konyol begitu. Tapi ternyata, aktingnya tidak mengecawakan. Malah aku rasa, kehadiran dia yang membuat sinetron itu segar. Belum lagi si Babe Naim dan Mat Soleh, tonton deh, asli...kocak banget! Tapi ya, kadang......banget, suka kelewatan becandanya. tapi it's Ok lah!

Yang aku suka dari sinetron ini adalah ga ada si jahat dan si baik. Yang ada cuma orang-orang dengan sifat baik dan buruknya. Kalo setelah ditonton kamu menemukan akting berlebihan dari satu-dua orang pemainnya, ya...toleransi dikit lah, secara umum sih, sinetron ini udah cukup baik kok.....menurutku!