
| Rating: | ★★★★ |
| Category: | Movies |
| Genre: | Drama |
Ini film bagus. Beneran! Ya...jangan ngarepin aksi atau laga memukau atau bintang terkenal di film ini. Tapi film ini jelas bisa membawa kita kembali ke zaman sekolah dulu. Dari ketiga tokoh di dalam film tersebut- Kok Pin, Boon Hock dan Terry- yang manakah anda? Kalo aku sih....gak tiga-tiganya. Tapi film ini berhasil membawaku merasa seperti mereka. Menangis bersama mereka, walau lebih sering tertawa bersama mereka.
Film ini menceritakan perjuangan tiga orang anak dengan latar belakang yang berbeda dalam kehidupannya di sekolah di luar sekolah yang selalu dikaitkan dengan prestasinya di sekolah. Kalau prestasi selalu didasarkan pada nilai atau rangking di kelas, maka mereka bisa dikatakan tidak punya prestasi. Bahkan mereka seringkali dicap tidak punya masa depan karena sudah masuk dalam kelas EM3. rupanya di Singapore sana, sekolah SD punya tingkatan untuk muridnya. Dan EM3 merupakan kelas terendah yang bisa dicapai murid sekolah. Aih...gimana rasanya belajar di sekolah dengan mengetahui bahwa kita termasuk kelompok anak terbodoh di sekolah tersebut? Kalau mau tau rasanya....ya liat aja film itu. Seru deh!
Selain berhasil membawa kita bernostalgia ke dunia SD dulu, film ini juga mengenalkan kita akan kehidupan di Singapore secara umum. Yang paling mencolok sih bahasanya...Pua Chu Kuang banget. Jadi mikir, ternyata banyak figur lidya (dari ‘Living with Lidya’) di Singapore, ya kayak ibunya Terry itu. Oia, si Terry ini kan ceritanya orang kaya banget, dia biasa asrapan dengan dilayanin pembantu. Ada satu sceen di mana bapaknya si Terry ini ngobrol dengan pembantunya pake bahasa Indonesia. Nama pembantunya Marliah dan ......siapa ya, pokoknya Indonesia banget. Awalnya sih tersinggung juga, tapi ya....gimana lagi, emang kenyataan begitu kali. Rata-rata pembantu di sana emang berasal dari Indonesia dan Filipina mungkin.
Kebudayaan orang Singapore juga sempet disinggung sedikit. Ada pepatah yang disebut Boon Hock waktu kabur dari sekapan penculik. Katanya, ‘Orang Singapore selalu berpikir lurus, tidak tahu cara memotong jalan’. Apa iya? Gambaran dunia pendidikan di sana juga hampir mirip dengan di Indonesia di mana gelar itu penting banget. Sempet disinggung, walaupun Cuma selembar kertas, gelar itu penting banget untuk mencari kerja. Sama kan ama di sini? Di Singapore, matematika dan bahasa Inggris juga menjadi primadona dalam mata pelajaran sekolah. Pelajaran lain...nothing!! (kok jadi kaya vincent dan desta?!?) Penggunaan bahasa Inggris dengan benar juga menjadi issu dalam lingkungan kerja. Pemerintah Singapore sampe2 melarang bahasa Inggris slank (yg seperti kita lihat di ‘Pua Chu Kuang’ dan ‘Living with Lidya’) untuk digunakan dalam iklan2 di TV.
Pokoknya banyak deh yang kita dapat setelah nonton film ini. Oia, kalo lagi nonton film ini, coba deh perhatiin kakaknya si Terry, mirip siapa ya????

Tidak ada komentar:
Posting Komentar